|
Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi (Penulis adalah mahasiswa Universitas Al-Azhar (Cairo), fakultas Ushuluddin-Jurusan Tafsir.)
Violence atau al-`unuf merupakan kata yang "paling laris" dan komersial sejak tragedi 11 September 2001. Di samping kata tersebut, ada Osama bin Laden yang hingga hari ini disebut-sebut sebagai "dalang" beberapa peristiwa tindak kekerasan. Di Barat, kata violence identik dengan harakah islamiyah (pergerakan Islam). Sedangkan di Timur (baca: dunia Islam), kata al-`unuf identik sebagai sebuah "tantangan" dari luar: Barat.
(1) Stagnasi negatif saat ini adalah: agama Islam teroris, karena Alquran mengajarkan tindak kekerasan. Oleh karenanya, Islam harus dihapuskan. Dan penghapusan Islam ini, harus dimulai dari penghapusan nilai-nilai Qurani. Akhirnya, berbagai tudingan "singgah" ke wajah Islam dan kaum Muslimin. Fenomena ethnic cleansing yang terjadi di Palestenia, kekerasan yang terjadi di Irak, pertempuran yang terjadi di Chechnya (yang sekarang sudah dilupakan), kematian Rafiq Al-Hariry dan isu kekerasan lainnya; oleh Barat dinilai sebagai tindakan pihak Islam: yang mengatasnamakan dirinya sebagai kelompok harakah islamiyah. Tiga kelompok Islam yang ada di Irak: Al-Jihad wa Al-Tawhid (yang dipimpim oleh Abu Mushab Al-Zarkawi), Anshar Sunnah dan Al-Jaisy Al-Islmiy, dipandang oleh Amerika sebagai kelompok teroris. Bahkan Israel menganggap penduduk Palestina sebagai teroris, karena melakukan perlawanan (al-muqâwah). Fenomena rancu inilah kiranya yang harus dilihat secara objektif. Benarkah Islam itu teroris? Apa benar Alquran mengajarkan umat Islam untuk melakukan tindak kekerasan? Dan apakah wacana kekerasaan itu khusus (terjadi) di negara-negara Islam?
Islam adalah agama yang sangat mencintai "kedamaian". Karena kata al-salâm, al-istislâm, al-muslim, al-taslîm dan bentuk derviasi lainnya mengindikasikan akan "kedamaian", bukan kekerasan. Dr. Hassan Hanafi dalam sebuah artikelnya yang berjudul Reconciliation and Preparation of Societies for Life in Peace: An Islamic Perspective menggambarkan dengan sangat apik tentang makna Islam ini. Beliau menyatakan: "The word Salam, which means peace in all its derivate forms, is mentioned and constantly repeteadly in the Qur'an, more as a noun than a verb. Since a noun is substance while a verb is an action we can say that the peace indicated by the word Salam as a noun is a substance, a structure and a world-system not only an action. It is an objective reality, not only a subjective modd.
Islam, the name of the Religion, is derived from sameroot as Salam, which means peace. Islam, therefore, is a religion of peace. The word this time is used more as adejective than a noun. Once Islam is adopted as a belief-system by an individual or a group, it becomes an action an a life style, singular or plural, masculine or feminine. One of derivative nouns is al-Silm, which means at the same time Islam and Peace.
Al-Salam (Salam with the article al), which means "The Peace", is one of the ninety-nine Dinine Names. Since Divine Names are considered a Universal code of ethiscs and peace. Therefore, they are a part of human behavior, individual as well as collective. Since the Divine Names are holy names to be sanctified. No Muslim can call himself Al-Salam, since it is a Divine Names, but only Abd al-Salam. That means the servant of peace. A Muslim is a Servant of Peace, implementing the Holy Name in his life and working for peace.
The greating formula in Islam, determining the ralation between Muslim is "al-Salamu `Alaykum," which means "Peace be upon you". This greating originates in some Qur'anic usage of the verb (Salam) which means "to salute". Homes are to be a sanctuary of privacy. No entry is possible without permission of the dwellers. Breaking-in, spying, bugging and all forms of assault on privacy are against peace. Peace is not only a matter of International Law and International Relations between Sovereign States. Peace begins inside the individual, expanding to family and social life" (Islamic Millennium Journal, Vol I/Number 1/Sept-Nov 2001: 2).
(2) Dari penjelasan makna "Islam" yang cukup panjang di atas tampak jelas bahwa Islam adalah anti-kekerasan. Dan (memang) sejak masa turunnya Islam di Jazirah Arabia, ia selalu menentang tindak kekerasaan atau kezaliman. Oleh karena itu, Islam sangat menghargai dan menghormati kebebasan dan sangat anti kezaliman dan otoritarianisme. Tentu saja apa yang dilakukan di Irak dan Palestina tidak sejalan dengan Islam. Karena Amerika dan Israel dalam pandangan Islam, sudah "memasung" dan melakukan tindak kezaliman terhadap rakyat Irak dan Palestina. Tidak ada hati nurani seorangpun yang menyatakan bahwa "meyatimkan dan memiskinkan" orang lain sebagai tindakan yang baik. Amerika dan Isreal bukan hanya menghancurkan gedung-gedung dan perumahan, namun mereka (secara nyata) menghancurkan masa depan dan harapan rakyat kedua negara tersebut. Bukankah ini tindakan kezaliman, against peace?
Agama Islam tidak mengajarkan hal demikian. Meskipun terpaksa harus berperang, Islam tidak serta merta melakukan tindakan yang membabi buta. Salah satu bukti sejarah adalah kisah Abu Bakar yang mengirim pasukan. Pesan beliau yang sangat terkenal adalah: jangan menebang pohon yang sedang berbuah, jangan membunuh anak kecil, para wanita dan orang jompo, jangan mengganggu orang yang sedang beribadah di dalam rumah ibadahnya, jangan membunuh binatang ternak, dsb. Dan fenomena yang terjadi di Irak dan Palestia justeru sebaliknya. Ironisnya, rakyat yang melakukan perlawanan (dalam negara mereka yang dirampas dan dijajah) disebut sebagai teroris.
Alquran dan Kekerasan?
Apa yang dilakukan oleh umat Islam merupakan implementasi dari ajaran Islam dan Alquran. Islam tidak pernah mengajarkan tindak kekerasan, dan Alquran tidak mengandung ajaran kekerasan. Kalaupun ada orang Islam yang melakukan tindak kekerasan, itu tidak dapat diklaim sebagai meanstream ajaran Islam dan Alquran. Dengan mengutip Alquran dan hadits Rasul saw, Muhammad al-Sa`diy menyatakan bahwa Allah mengutus para rasul disertai dengan bukti yang nyata, kitab suci dan neraca (keadilan), agar mereka dapat melaksanakan keadilan (Qs. Al-Hadid [57]: 25), Allah akan menghancurkan para pelaku kezaliman (Qs. Ibrahim [14]: 13), orang-orang yang zalim akan menerima azab yang dahsyat, karena mereka fasik (Qs. Al-A`raf [7]: 165, Alquran melarang umat Islam untuk mengikuti (cenderung) kepada orang-orang zalim, bahkan meraka tidak boleh dijadikan wali (pemimpin). Yang menjadikan mereka sebagai wali (pembantu), akan disentuh oleh api neraka (Qs. Hud [11]: 112-113), Alquran mewanti-wanti agar tidak menerima bentuk kezaliman dan merasa enjoy terhadap bentuk ketidakjujuran. Orang yang mendiamkannya: padahal mampu untuk melawan dan merubahnya akan dikenakan azab di dunia dan akhirat (Qs. Al-Anfal [8]: 25). Oleh karena itu, Islam menyeru umatnya agar melawan kezaliman, menghapuskan kemunkaran dengan segala cara, diantaranya adalah kekuatan (Qs. Al-Hajj [22]: 39, Qs. An-Nisa' [4]: 75, Qs. Al-Hujurat [49]: 9, Qs. Al-Anfal [8]: 39, dan Qs. Asy-Sura [42]: 39-42). Selain ayat-ayat Alquran di atas, banyak hadits Nabi saw yang mengajak unguk menentang bentuk kezaliman itu. Diantaranya; (1) "Tidak seorang nabipun yang diutus oleh Allah sebelum aku, kecuali memiliki para hawariyyun (pengikut setia) dan para sahabat yang melaksanakan sunnahnya dan mengikuti jejaknya. Setelah itu, muncullah beberapa generasi yang hanya bisa ngomong tapi tidak mengerjakan, dan mengerjakan apa yang tidak diperintahkan kepada mereka. Barangsiapa yang melawan mereka itu dengan tangannya, maka dia mukmin; siapa yang melawannya dengan dengan lisannya, ia adalah mukmin dan siapa yang menentangnya dengan hatinya, maka ia (juga) mukmin. Dan selain itu tidak ada nilai iman meskipun hanya sebesar atompun" (HR. Muslim); (2) "Sesungguhnya, jika manusia melihat kezaliman dan tidak merubahnya dengan tangannya, maka ditakutkan siksa Allah akan turun kepada mereka" (HR. Abu Dawud, al-Turmdzi dan Ibnu Majah); (3) Seorang laki-laki datang menemui Rasulullah, lalu ia bertanya: "Wahai Rasulullah, bagaimana jika seseorang datang mau mengambil hartaku? Rasul menjawab: "Jangan berikan kepadanya! Bagaimana kalau dia menyerangku? Tanyanya lagi. Lawanlah ia!, jawab Rasul. Ia bertanya lagi: 'Bagaimana seandainya dia membunuhku? Engkau syahid, jawab Rasul. Ia balik bertanya: "Bagaimana kalau aku yang membunuhnya? Dia masuk neraka, kata Rasul. (HR. Muslim). (Jurnal Islamic World Studies Centre, vol. I, 1991: 176-177, dalam makalah yang berjudul al-Takfîr wa al-`Unuf fî Mîzân al-Islâm).
Selain itu, dalam Alquran terdapat cara (gaya) dalam melakukan amar makruf nahi munkar (Qs. Ali Imran [3]: 105). Hadits Rasul menyatakan: "Pemimpin para syuhada adalah Hamzah ibn Abdul Muthallib dan seseorang yang berdiri tegas di hadapan pemimpin yang tidak adil: ia memerintahkan kepadanya (untuk berbuat baik) dan melarangnya (dari berbuat jahat), lalu pemimpin itu membunuhnya" (HR. Al-Hakim). Dalam hadits yang lain, Rasul menyatakan: "Barangsiapa diantara kamu yang melihat satu bentuk kemunkaran, maka rubahlah ia dengan tangannya; jika tidak bisa, rubahlah dengan lisannya; dan jika tidak bisa, rubahlah dengan lisannya. Itulah selemah-lemah iman" (HR. Muslim). Alquran juga mengajarkan agar menyeru ke jalan Allah itu dengan berbagai cara: nasehat yang baik, perkataan yang halus, dialog (al-hiwar), dan adu argumen (al-jadal) dengan cara yang baik (Qs. An-Nahl [16]: 125, Qs. Thaha [20]: 18-19, Qs. Al-Maidah [5]: 27-29 dan Qs. Al-Baqarah [2]: 258).
Alquran menyebutkan segala cara melawan kezaliman di atas, agar umat Islam dapat memilih bentuk yang sesuai dengan mereka dan kondisi mereka; sesuai dengan keadaan pemerintahan yang melenceng dari syariat: sesuai kadar kezaliman dan penyelewengannya. Hal ini dialakukan untuk menghindari terjadinya tindak kekerasan, kesulitan dan ekstrimisme. Dan Alquran menyebutkan cara melakukan perubahan "yang baik" (aman) hingga cara lewat kekuatan untuk menghindari fitnah, menjaga terjadinya pertumpahan darah, menjaga nyawa manusia, kemaslahatan manusia, kestabilan dan keamanan sosial: agar tidak sembarangan menggunakan kekuataan, kecuali setelah melaksanan cara yang lebih aman dan tersedianya sebab-sebab yang mendukung tercapainya perubahan dengan menggunakan kekuatan (ibid: 177-178). Dengan demikian, pendapat yang menyatakan bahwa Islam itu agama teroris, tidak benar sama sekali. Itu hanya pendapat tendensius yang ingin menyudutkan Islam.
(3) Bibel dan Ayat-ayat Kekerasan!
Adalah hal yang tidak fair ketika menilai tindak kekerasan dari satu sudut: Islam dan Alquran. Tidakkah lebik bijak jika dicoba sedikit terbuka. Kalau dalam Alquran tidak ditemukan "perintah melakukan tindak kekerasan", apakah dalam Bibel juga demikian? Jika dilihat secara detail, Bibellah sejatinya yang mengandung ayat-ayat kekerasan (violence verses). Dengan demikian, wajar jika negara Barat (yang notabene Kristen dan phobia Islam) sangat membenci Islam dan umatnya. Dalam Injil disebutkan bahwa "Yesus datang bukan membawa kedamaian, melainkan "pedang" (Matius 10: 34 dan Lukas 12: 51). Tentu saja hal ini sangat bertentangan dengan misi Yesus Kristus sebagai nabi pembawa kasih sayang. Karena dalam ayat yang lain ia mengatakan: "Jika pipi kananmu dipukul, berikan pipi kirimu; penguasa yang memaksamu memikul barang sejauh satu kilometer, pikullah sejauh dua kilometer; jika seseorang menginginkan bajumu, berikanlah jubahmu juga" (Matius 5: 39-42 dan Lukas 6: 29 dan 30). Dengan demikian, tidak ada istilah membalas kejahatan dengan kejahatan, kekuatan dibayar dengan kekuatan, melainkan Yesus mengajak umatnya untuk mencintai para musuh mereka dan memberkati siapa yang melaknat mereka (Matius 5: 43, 44 dan Lukas 27, 28). (Dr. Yusuf al-Qaradhawi, Al-Islâm wa Al-`Unuf: Nazharât Ta'shîliyah, 2005: 18).
Ayat-ayat kekerasaan yang lain adalah; "Apabila kamu pergi untuk menyerang sebuah kota, berilah dahulu kesempatan kepada penduduknya untuk menyerah. Kalau mereka membuak pintu-pintu gerbang dan menyerah, mereka semua harus menjadi hamba-hambamu dan melakukan kerja paksa untukmu. Tetapi kalau penduduk kota itu tidak mau menyerah dan lebih suka berperang, kamu harus mengepung kota itu. Kemudian, apabila TUHAN Allahmu memungkinkan kamu merebut kota itu, kamu harus membunuh seluruh penduduknya yang laki-laki. Tetapi kamu boleh mengambil kaum wanita, anak-anak; ternak dan apa saja yang ada di kota itu. Segala harta benda musuh-musuhmu itu boleh kamu pakai. TUHAN Allahmu menyerahkan itu kepadamu. Begitulah harus kamu perlakukan kota-kota yang jauh dari negeri kediamanmu. Tetapi kalau kota itu ada dalam wilayah yang diberikan TUHAN Allahmu kepadamu, seluruh penduduknya harus dibunuh. Seperti yang diperintahkan TUHAN Allahmu, kamu harus membinasakan orang-orang Het, Amori, Kanaan, Feris, Hewi dan Yebus. (Kitab Ulangan 20: 11-17). Dalam kitab yang sama disebutkan juga; "Maka seluruh penduduk kota itu beserta ternaknya harus dibunuh. Kota itu harus dimusnahkan sama sekali. Seluruh harta benda penduduk kota itu harus dikumpulkan dan ditimbun di tanah lapang, lalu kota dan segala harta bendanya harus dibakar sebagai kurban bagi TUHAN Allahmu. Sesudahnya semua itu harus ditinggalkan menjadi puing dan tak boleh dibangun kembali" (Ulangan 13: 16-17).
Tentu hal ini sangat jauh berbeda dengan Islam, selaku agama yang universal. Islam tidak mengajarkan teknik perang yang "membabibuta" seperti yang digambarkan oleh Bibel di atas. Dengan melihat beberapa ayat Bibel di atas, ternyata bukan hanya mengandung ajaran "kekerasan", juga sangat kontradiktif kandungan ayat-ayatnya. Apakah ayat-ayat kekerasan tersebut yang dijadikan dasar oleh Kristen-Barat dalam "membumihanguskan" seluruh daerah yang dijajahnya? Tentu jawaban yang paling bijak adalah dengan melihat realitan yang sedang berjalan: di Palestina, Chechnya, Fhilipina, Irak dan negara lainnya. Namun, siapapun dari umat Kristen yang disuruh memlilih salah satu dari dua versi ayat tersebut, penulis yakin bahwa mereka akan memilih yang tidak mengajarkan kekerasan. Lalu di mana letak salahnya?
Global Violence
Yang paling menarik adalah, ternyata fenomena kekerasan (al-`unuf ) ini bukan hanya terjadi di negara yang (dianggap) mayoritas penduduknya Muslim. Fenomena dan wacana tindak kekerasan sudah menjadi wacana global (global discourse). Di Amerika ada violence, di Inggris, Belanda, Italia, Rusia dan negara lainnya. Bahkan isu perang melawan terorisme sejatinya cara Barat untuk "mengobok-obok" kedaulatan negara-negara Islam. Alasannya sama: memerangi terorisme dan menanamkan demokrasi. Ali A. Mazrui, D. Phil dalam artikelnya yang berjudul The Ethics of War and The Rethoric of Politics: "The West and The Rest" menyatakan bahwa terorisme sudah menjadi wacana gobal, namun defenisi dari "aksi perang tidak". "Terrorism is getting globalized, but the defenition of an "act of war" is not", ungkapnya (Islamic Millennium Journal, vol. II, 2002: 7). Ia juga mengkritik Amerika dan Isreal dengan cukup keras dalam hal perang dan masalah terrotorial. Ia menyatakan: "How many American would acknoledge that the Anglo-American no-fly zones imposed on Iraq for the last decade are a continuing act of war? Iraqis are not allowed to fly planes in their own air space. And yet the fly zones over Iraq have no United Nations authorization or legal validation. Iraqis get bombed if they challenge American or British planes over Iraqi territory. How many members of the Bush administration would accept that the Israeli occupation of the West and Gaza are what a Foreign Minister of India once described as "permanent aggression"? Indeed, are not the Israeli settlements on accupied land illegal and tantamount to belligerency? President George W. Bus's father came close to declaring them as such".
Selain itu, setiap presiden Amerika menurutnya terlibat dalam aksi perang. "Every American president since Franklin D. Roosevelt has engaged some act of war or another. Roosevelt was invetably embroiled in World War II; Harry Truman helped to initiate the Korean War; Dwight Eisenhower ended the Korean War but started planning for the Bay of Pigs operation on Cuba; John F. Kennedy unleashed the Bay of Pigs operation and helped to initiate the Vietnam War; Lyndon Johnson escalated the Wietnam War; Richard Nixon bombed Cambodia; Gerald Ford sent the Marines in a disagreement with Cambodia over U.S. cargo-ship, the Mayaguez; Jimmy Carter attempted to thwart the Iranian revolution and paid heavly for it; Ronald Reagan perpretrated acts if war in Lebanon, the Carribean, Libya and in shooting down civilan airline in the Persian Gulf; George Bush Senior invaded Panama and it most famous for Desert Storm in the Persian Gulf; Bill Clinton led military action against Yugoslavia over Kosovo and bombed Sudan and Afghanistan; George W. Bush has already inherited a decade of bombing Baghdad and subsidizing half a century of Israeli militarism aginst Palestinians. Now this younger Bush is about to embark on what he calls a "crusade against terrorism". (ibid: 6-7).
(4) Sangat kentara memang bias Amerika dalam kancah politik dunia. Itulah bentuk polisi dunia: bebas mengatur, bebas mendikte dan bebas merampas hak negara lain. Memang, jika dilihat warna "Kiri-Amerika" yang ekstrim itu semakin kentara, terutama kebijakan-kebijakan Amerika yang semakin merugikan negara-negara Islam.
Dr. Yusuf al-Qaradhawi menyatakan bahwa Amerika yang sekarang dikuasai oleh Kiri-Amerika yang ekstrim, terutama Bush Junior yang "mendekatkan diri" kepada Allah atau Kristus dengan cara membunuh umat Islam, menyiksa dan melaparkan mereka menggunakan "tindak kekerasan" di "atas bumi" atas "nama langit" (baca: Tuhan). Dan ia menganggap dirinya –sebagaimana anggapan orang terdekatnya—sebagai utusan langit (rasûl al-samâ). Sampai-sampai sebagian mereka menyatakan: "Bukan pemilihan yang mengantarkan Bush ke Gedung Putih, Tuhanlah yang membawanya ke sana!" Seperti apa yang pernah diyakini oleh "Jengis Khan" pada perang zaman dahulu, yang (dengan ungkapannya) menghancurkan seluruh kerajaan dan melenyapkan pelbagai peradaban. (op.cit,: 20).
Jelas sudah bahwa Islam tidak mengajarkan tindak kekerasan. Dengan demikian, tuduhan stigma negatif yang diterima Islam tidak dapat dibenarkan sama sekali. Alquran adalah kitab suci yang mengajarkan perdamaian di muka bumi. Sebagai bukti riil adalah sejarah perjalanan Islam sejak empat belas abad silam. Semestinya, tudingan yang menyatakan bahwa Islam itu tersebut dengan pedang dan paksaan dicabut sejak dulu. Karena ternyata, Islam dan Alquran justeru ingin membumikan "budaya damai" (tsaqâfah al-salâm). Tentunya, mencari kebenaran dengan akal sehat: yang dilakukan secara bijak, objektif dan "kepala dingin" adalah cara terbaik dalam melihat sebuah problematika. Karena biasanya "kabar tidak selamanya sama dengan kenyataan".
(Kairo, 3 Juni 2005) |