Minda Madani Online

MINDA MADANI Online, menyediakan medium bagi tujuan penyaluran maklumat serta penyebaran pemikiran-pemikiran segar mengenai dakwah, pembinaan keperabadian Muslim dan asas-asas Tarbiah Islamiah. Kesemua artikel dan pendapat yang disiarkan di dalam laman sesawang ini tidak semestinya mencerminkan pendirian ABIM.

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday29
mod_vvisit_counterYesterday489
mod_vvisit_counterThis week518
mod_vvisit_counterThis month2873
mod_vvisit_counterAll250730

Artikel Pilihan

Respon Islam Terhadap Konsep Kesatuan Agama-agama
Prof. Dr. Syed Muhamad Naquib al-Attas

Konsep tentang Tuhan dalam Islam bersumber dari dan berdasarkan wahyu. Yang kami maksud dengan “wahyu“ di sini sama sekali bukanlah imajinasi seperti khayalan seorang penyair besar ataupun klaim para seniman terhadap diri mereka sendiri. Wahyu di sini juga bukan inspirasi apostolik seperti yang diklaim oleh para penulis kitab suci semacam Bible; ia juga bukan intuisi iluminatif seorang ilmuwan atau pakar yang berpandangan tajam.
 
Wahyu yang kami maksud di sini adalah firman Tuhan tentang diriNya sendiri, ciptaanNya, relasi antara keduanya, serta jalan menuju keselamatan yang disampaikan pada Nabi dan Rasul pilihan-Nya, bukan melalui suara atau aksara, namun semuanya itu, telah Dia representasikan dalam bentuk kata-kata, kemudian disampaikan oleh Nabi pada umat manusia dalam sebuah bentuk bahasa dengan sifat yang baru, namun bisa dipahami, tanpa ada campur-aduk atau kerancuan (confusion) dengan subyektifitas dan imaginasi kognitif peribadi Nabi. Wahyu ini bersifat final, dan ia (yakni al-Qur’an) tidak hanya menegaskan kebenaran wahyu-wahyu sebelumnya dalam kondisinya yang asli, tapi juga mencakup substansi kitab-kitab sebelumnya, dan memisahkan antara kebenaran dan hasil budaya serta produk etnis tertentu.


 
SAJAK - " Dajjal" PDF Print E-mail
Kearifan umat telah pupus dihakis,
materialisme, hedonisme dan egoisme
mereka tidak lagi memahami isyarat demi isyarat
bukankah bebal namanya, jika mereka tidak menyedari
dajjal telah lama lahir, kini
ia telah telah telanjur dewasa, sakti dan sadis
keadilan, kebenaran, kamanusiaan mutlak monopoli sang dajjal
sesiapa yang tidak mengikut telunjuknya, akan menggigit telunjuk
sesiapa yang berani mengangkat muka, akan diboikot
sesiapa yang berani melawan, akan diserang
sesudah dia menakluk Afganishtan
dia mengganyang Iraq, hingga hancur berkecai
sedang menunggu giliran Syria, Iran, Lybia dan Sudan
bukan mustahil Indonesia, Malaysia dan Brunai akan disekali-harungkan saja
leceh, buat kerja remeh dua tiga kali.

 

Ingat,
sasaran utama dajjal ini hanyalah Islam
dia tidak akan berhenti mengganas
sebelum umat mempertuhankan mereka.

Sekarang,
di muka bumi ini, tidak ada satupun yang
berani menentangnya, kalau ada
setakat bersungut-sungut di belakang, itupun
sekadar sandiwara politik untuk mengekalkan kuasa para bonekanya,
yang begitu, memang hala-halal saja.

Malangnya,
walaupun Amerika telah mengisytiharkan kedajjalannya
sebahagian besar penguasa umat menyanjungnya, sebagai
dewa penyelamat untuk mengekal tahta mereka, kalau
umat melihat Amerika punca segala kehancuran tamadun Islam
penguasa melihatnya sumber segala kemajuan
bagi mereka
dajjal, hanyalah kisah nenek kebayan, yang
telah lama ketelan zaman.

Sebenarnya,
punca bala dan musibah umat ini, kerana
hampir mustahil mencari penguasa tanah syahadah seorang muslim yang sejati
surah dan hadist akan meluncur dari bibir mereka dan tali barutnya
semata-mata untuk menghukum pengkritiknya
semata-mata untuk menyingkir pembangkang
semata-mata untuk menghalalkan menangkap dan kalau perlu membunuh
para pengungkit kezaliman mereka
lalu, kriteria kepimpinan yang layak, adil dan penuh hikmah kebijaksanaan
lalu, persaudaraan sesama muslim yang mengatasi kecintaan diri sendiri
lalu, arahan berjihad mempertahankan maruah dan keadaulatan umat
telah lama mereka padam dari al-Qur'an dan Sunah.

Sahabatku, sedarkah kalian
para penguasa tanah syahadah sekarang
telah sengaja meng-antik-an a-Qur'an dan Sunah
kitab suci yang selalu mereka belek-belek
demokrasi, sekularisme, materialisma dan yang mutakhir globalisasi
zikir yang selalu diwirid-wiridkannya
modenisasi, pembangunan, kemewahan dan kebebasan tempadan
matlamat akhir mereka, tidak lain tidak bukan
bagaimana mengekalkan dinasti mereka hingga ke akhir zaman.


Natijahnya,
para penguasa tanah syahadah, telah lama secara terselubung
memproklamirkan diri mereka sebagai dajjal-dajjal kecil
tapi, kadangkala dajjal-dajjal kecil ini
jauh lebih gila dan buas daripada induk mereka.

Seremban, April 2003
Suardi Sawai

 
< Prev   Next >