Minda Madani Online

MINDA MADANI Online, menyediakan medium bagi tujuan penyaluran maklumat serta penyebaran pemikiran-pemikiran segar mengenai dakwah, pembinaan keperabadian Muslim dan asas-asas Tarbiah Islamiah. Kesemua artikel dan pendapat yang disiarkan di dalam laman sesawang ini tidak semestinya mencerminkan pendirian ABIM.

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday498
mod_vvisit_counterYesterday470
mod_vvisit_counterThis week4165
mod_vvisit_counterThis month2562
mod_vvisit_counterAll444378

Artikel Pilihan

Respon Islam Terhadap Konsep Kesatuan Agama-agama
Prof. Dr. Syed Muhamad Naquib al-Attas

Konsep tentang Tuhan dalam Islam bersumber dari dan berdasarkan wahyu. Yang kami maksud dengan “wahyu“ di sini sama sekali bukanlah imajinasi seperti khayalan seorang penyair besar ataupun klaim para seniman terhadap diri mereka sendiri. Wahyu di sini juga bukan inspirasi apostolik seperti yang diklaim oleh para penulis kitab suci semacam Bible; ia juga bukan intuisi iluminatif seorang ilmuwan atau pakar yang berpandangan tajam.
 
Wahyu yang kami maksud di sini adalah firman Tuhan tentang diriNya sendiri, ciptaanNya, relasi antara keduanya, serta jalan menuju keselamatan yang disampaikan pada Nabi dan Rasul pilihan-Nya, bukan melalui suara atau aksara, namun semuanya itu, telah Dia representasikan dalam bentuk kata-kata, kemudian disampaikan oleh Nabi pada umat manusia dalam sebuah bentuk bahasa dengan sifat yang baru, namun bisa dipahami, tanpa ada campur-aduk atau kerancuan (confusion) dengan subyektifitas dan imaginasi kognitif peribadi Nabi. Wahyu ini bersifat final, dan ia (yakni al-Qur’an) tidak hanya menegaskan kebenaran wahyu-wahyu sebelumnya dalam kondisinya yang asli, tapi juga mencakup substansi kitab-kitab sebelumnya, dan memisahkan antara kebenaran dan hasil budaya serta produk etnis tertentu.


 
Sajak Pilihan: GULAT PENJAWAT ( Sempena sambutan Hari Pekerja ‘08) PDF Print E-mail
Watak yang hidup,pentas diperlembagakan
Pelakonnya, anak buah kerajaan bergelar
Belaka
Bersemuka dengan marhaen awam
Yang mengharap rindu gelisahnya dapat disurutkan
Merungkai belitan di pundaknya
Yang kian memberati, menopang sebak di dada rasa
Tertekan apabila urusan terkekang dek masa
Masa mengejar masa
Rahsia atas rahsia
Lama sudah dijejaki, baru tersedar kelewatan. Rupanya
Bukan semua maslahat marhaen itu
Dapat disurutkan lantaran mereka sebenarnya juga sama
Kesempurnaan dari pengharapan mereka itu bukan angka
Bukan RM tetapi rakyat itu manusia, buruk baiknya
Berwalahan, hidup itu sendiri terikat dengan ruang dan waktu
Berubah dan hukunya tetap terjadi

Cuma:
Sebagai penjawat madah
Kami perlu bersungguh memberi senyuman
Menguliti wajah dan ruang masa itu kepada
Yang lebih baik....harap-harap
Allah terima dengan segala kelemahan kami
Dalam mencatat, mencoret agar kain itu
Menjadi lebih terkendalikan-sebagai bekal diri
Untuk tenteram menuju akhir kalimat
Semoga esok lebik baik dari hari ini
Dan ia diteruskan dengan harapan dan kekuatan
Untuk pengabdian kepada Allah
“Demi masa, sesungguhnya manusia itu dalam kerugian,
Kecuali mereka yang beramal soleh,
Berpesan dengan kebenaran dan berpesan dengan kesabaran”
Ya Allah, angkatlah kesedihan umat ini.....
Matikan kami dalam Din-ul Islam



                                Barra Sban, April 2008
 
< Prev